Impian Selektif Itu Perlu
Bermimpi, selain indah, juga memacu motivasi. Misalnya saja, saya pernah bermimpi menjadi penulis, bahkan ini pernah menjadi isi dari doa-doa saya. Jelas, mimpi memberikan blue print bagi masa depan.
Sekarang hampir semua impian saya sudah menjadi kenyataan.
Celakanya, banyak orang yang tidak mengimbangi impian mereka dengan usaha yang seimbang dengan kadar “kedalaman” impian mereka. Ada beberapa dari kenalan saya yang cukup tinggi impiannya. Ada satu yang ingin sekali menjadi seorang profesor, namun semangat belajarnya benar-benar bisa dibilang jauh di bawah rata-rata (“malas ah,” begitu istilah yang digunakannya). Dalam waktu lima tahun, belum setengah program asssociate degree (setara D2 di Indonesia) yang diselesaikannya, namun ia sangat sering mengutarakan keinginannya untuk menjadi profesor dan menulis biografi hidupnya. Tentu saja impian mulia ini saya dukung penuh.
Ada lagi yang sangat bercita-cita menjadi pengusaha sukses namun ia sangatlah takut untuk memulai sesuatu yang baru, apalagi memulai bisnis. Alasannya karena ia bukanlah seorang pebisnis alami, sehingga proses belajarnya sangatlah panjang. Sekali lagi, saya sangat mendukungnya. Malah saya pernah menawarkannya untuk meninjau tempat kerja saya dan bagaimana saya melakukan kegiatan-kegiatan entrepreneur saya (semacam menjadi apprentice-lah). Sayangnya, sekali lagi ketakutan menjadi penghalang.
Bermimpi memang penting. Seperti halnya saya berangkat ke Negeri Paman Sam dengan semangat merantau yang pantang menyerah, impian saya untuk menjadi seorang penulis berbahasa Inggris sudah tercapai. Bahkan dengan prestasi finalis EPPIE Award, saya sudah melampaui impian ini. Dengan menerbitkan satu buku setiap dua bulan sekali, jelas ini sudah bukan impian lagi.
Sekarang, impian saya adalah menjadi self-made millionaire di Silicon Valley dengan perusahaan dot-com “late bloomer” yang saya dirikan dengan suami (belum “billionaire” macam Bill Gates dan Larry
Ellison), tampaknya sudah sangat dekat. Demikian pula dengan impian saya untuk mendirikan institusi training (atau sekolah) sendiri, yang dalam beberapa bulan lagi sudah akan tercapai.
Ini semua adalah berkat keberanian untuk bermimpi dan keberanian untuk mematahkan kemalasan dan ketakutan. Kedua kenalan saya yang di atas mempunyai impian-impian besar yang sayangnya, tidak dibarengi dengan keberanian untuk mematahkan kemalasan dan ketakutan. Bagi mereka, impian hanyalah sekedar pengisi hati yang kadang kala hampa.
Bagi lebih banyak lagi orang, impian hanyalah impian. “Namanya juga ngimpi, nggak bakal jadi kenyataan deh.” After all, semua yang diimpikan hanya terjadi di kala tidur, bukan?
Sayang, sekali lagi sayang. Bermimpi secara selektif yang dibarengi dengan keberanian untuk menaklukkan kemalasan dan ketakutan adalah inti dari mindset sukses seseorang.
Jadikan impian paralel dengan usaha yang Anda masukkan ke dalamnya, bukan sebaliknya. Jalanlah terus di rel kereta api tujuan, jangan mudah ganti-ganti. Intinya adalah tetaplah bermimpi, namun bermimpi akan hal yang sama terus-menerus sampai hal itu tercapai. (Ini akan menjadi self-hypnosis bagi alam bawah sadar Anda.)
Kerahkan semua enerji dengan kesadaran (awareness) penuh. Lawanlah kemalasan dan ketakutan, karena itulah dua musuh utama dari impian yang tidak menjadi nyata.
————————————–
Sumber: Impian Selektif Itu Perlu by Jennie S. Bev. Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books and over 850 articles published in the United States, Canada, UK, France, Germany,
Singapore and Indonesia. She is based in scenic Northern California where she resides with her husband.
————————————–







Komentar Terakhir